Dulu Penduduknya Hampir 100 Persen Islam, Kini Muslim Jadi Minoritas di Negeri Ini

Ilustrasi
Ilustrasi

MOJOKERTOTIMES, MALANG – Dalam catatan sejarah, ternyata ada beberapa negara di Asia yang dulunya sebagian besar penduduknya adalah muslim. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya: Islam menjadi ajaran minoritas dan tak berjaya seperti dulu.

Dilansir dari channel youtube Catatan Ringan, negeri yang dulunya hampir 100 persen penduduknya muslim dan kemudian melakukan 'murtad' masal adalah Filipina. Tercatat, dulu Islam berkembang subur sejak abad ke-12 Masehi.

Filipina saat itu belum menjadi sebuah negara, melainkan kepulauan Melayu yang banyak disinggahi  pedagang muslim dan ulama dari Gujarat, India, dan Timur Tengah. Saat itu, populasi muslim di kepulauan tersebut mencapai 98 persen. Sedangkan sisanya adalah Hindu, Buddha, dan animisme.

Sebelum jatuh ke tangan bangsa Eropa, Islam masuk ke Filipina melalui seorang ulama bernama Syekh Karim Al Makdum. Selanjutnya di sana terbentuk beberapa kesultanan muslim, yaitu Kesultanan Maynilla, Kesultanan Tondo, dan Kesultanan Maguindanao.

Kesultanan tersebut tunduk kepada kesultanan yang lebih besar, yaitu Kesultanan Brunei dan Kesultanan Sulu. Kesultanan Maynilla sendiri merupakan cikal bakal ibu kota Filipina saat ini. Maynillah sendiri diambil dari bahasa Arab Fi Amanillah yang berarti "dalam lindungan Allah".

Pada 1520, penjelajah Spanyol kelahiran Portugis Ferdinand Magellan mendarat di Pulau Samar dan Leyte serta mengklaim ke dua pulau tersebut milik Spanyol. Namun hal itu ditentang oleh datutentara dari Kesultanan Pulau Magtan yang dipimpin Datu Lapu-Lapu. Sebagian pasukan Magellan pun melarikan diri dan nantinya membawa pasukan lebih banyak untuk menjelajah Filipina.

Pada 1565, penjelajah lain dari Spanyol De Legaspi datang dan membentuk sebuah permukiman Eropa. Enam tahun kemudian, mereka menyerang Kesultanan Maynilla dan Kesultanan Tondo. Lalu menjadikan Maynilla sebagai ibu kota Spanish East Indies.

Raja Sulaiman yang memimpin Kesultanan Maynilla pun tetap mempertahankan daerah kekuasaannya tersebut. Bersama dengan tiga ribu lebih tentara, mereka berjuang hingga titik darah penghabisan. Saat itu, masyarakat dihadapkan dengan penjajah Filipina dan diberi dua pilihan: menerima Katolik atau diusir dari kepulauan tersebut.

Sehingga penduduk yang hampir 100 persen beragama Islam itu kemudian berbondong-bondong memeluk Katolik. Tak hanya itu. Spanyol juga memasukkan berbagai unsur Eropa, mulai dari bahasa, tulisan, hingga sistem hukum.

Sementara sebagian muslim yang menolak masuk ajaran lain saat itu melarikan diri ke Mindanao. Daerah ini merupakan satu-satunya yang menentang Spanyol dan semua yang dibawa. Mereka melakukan perang gerilya sebagai perlawanan.

Muslim yang ada di wilayah selatan Filipina itu oleh orang Spanyol diberi julukan orang Moro, yang merupakan padanan dari kata Moor. Moor sendiri adalah bangsa keturunan Arab Spanyol  beragama Islam yang dulu menguasai Andalusia.

Orang-orang Moro ini pun berusaha untuk memisahkan diri dari keluarganya yang tinggal di Filipina utara dan menerima begitu saja ajaran Spanyol. Mereka menilai keluarganya tersebut telah menjual akidahnya. Sementara penduduk Filipina lainnya menganggap bahwa orang Moro adalah pengkhianat dan teroris bangsa. Sampai sekarang pun, pejuang Moro dan tentara Filipina masih sering bertempur.

Pada 1898, proklamasi kemerdekaan Filipina dibacakan. Kemerdekaan itu didapat saat Filipina dijual oleh Spanyol ke Amerika Serikat dalam sebuah perjanjian.

Saat ini, Filipina merupakan negara sekuler dengan gaya hidup seperti orang Amerika Serikat. Namun, masih ada beberapa jejak Islam di sana. Antara lain Masjid Syekh Karim Al Makdum yang masih berdiri kokoh.

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]mojokertotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]mojokertotimes.com | marketing[at]mojokertotimes.com
Top