Berjalan Alot, Mediasi Berjam-jam Konflik Kuota Jeep Wisata Ke Bromo Berakhir Deadlock

Suasana mediasi konflik dua paguyuban jeep di BB TNBTS (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Suasana mediasi konflik dua paguyuban jeep di BB TNBTS (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MOJOKERTOTIMES, MALANG – Mediasi konflik kuota Jeep Bromo yang berlangsung di Balai Besar  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB, berlangsung alot dan berakhir tanpa kesepakatan dari kedua belah pihak.

Kepala BB TNBTS, John Kennedie membenarkan jika dalam mediasi panjang ini belum mengabaikan kesepakatan dari kedua belah pihak. 

Dalam mediasi tersebut, pihak Perkumpulan Jeep Wisata Malang Raya sempat meminta penambahan kuota Jeep dari jumlah sebelumnya.

Sementara dari pihak Paguyuban Jeep 4x4 BTS Tumpang, hanya bisa menyanggupi penambahan kuota yang diminta sebanyak empat Jeep. 

Namun penambahan itu pun tidak berlaku setiap hari, penambahan kuota diminta hanya ada pada Sabtu dan Minggu.

"Dari Jeep Malang Raya memang meminta tambah, namun dari Jeep Tumpang hanya menyanggupi penambahan empat. Namun itu belum ada titik temu dan kesepakatan," bebernya ditemui usia mediasi beberapa menit lalu.

Karena itu, pihaknya saat ini akan juga akan kembali melakukan kordinasi sembari menunggu surat balasan dari Dirjen perihal permasalahan pembagian kuota Jeep yang diperdebatkan dua paguyuban ini. 

Pihaknya sendiri juga memberikan waktu selama seminggu untuk kedua belah pihak kembali berkoordinasi.

"Mudah-mudahan nanti segera ada solusi yang anteng dan adem, untuk sementara ya sesuai itu dulu (kuota sebelumnya  disepakati)," paparnya.

Di sisi lain, Kuasa Hukum, Perkumpulan Jeep Wisata Malang Raya, Yayan Riyanto menjelaskan, jika dalam mediasi tersebut, diakuinya memang berjalan alot. 

Dari pihak Paguyuban Jeep Tumpang masih tetap ngotot untuk memberikan kuota 21 jeep, dan hanya ada penambahan kuota empat Jeep pada Sabtu dan Minggu.

"Namun penambahan tersebut mereka juga belum bisa menerima, alasannya karena jumlah anggota Jeep mereka juga banyak. Tetap ngotot memberikan 21 itu. Tapi harapan saya minimal bisa ditambah separo dari anggota Jeep Malang Raya," jelas Yayan.

"Kuota penambahan separo dari anggota Jeep Malang Raya juga sudah disampaikan, namun mereka tetap nggak mau," tambahnya

Lebih lanjut dijelaskannya, jika berbicara masalah wisata Bromo, tentunya tidak hanya berbicara Tumpang saja, namun berbicara Malang.

Sedangkan Malang ini luas, jika hanya difokuskan ke Tumpang saja, tentunya ini menjadi sebuah masalah.

"Kan ada Pujon juga, kalau hanya difokuskan ke Tumpang kan nggak bisa. Untuk sementara kita slowdown dulu dengan kesepakatan kuota 21 sebelumnya, sambik kordinasi lagi," jelasnya.

Apalagi, lanjut Yayan, Jeep Malang Raya tidak pernah mengambil penumpang di Tumpang, namun mengambil di kota. Sehingga dari situ, ia merasa hal itu tidaklah merugikan pihak Paguyuban Jeep Tumpang.

"Sudah ada rezekinya masing-masing. Intinya kita tidak mencari penumpang dari Tumpang. Namun mereka keberatan, karena anggota banyak, kemudian ketambahan Paguyuban Malang Raya yang datang sedikit sehingga mereka berkurang penumpangnya. Namun kita ini kan mencari rezeki di tempat lain, kemudian dibawa ke sana jadi tidak mengurangi jatahnya orang tumpang," pungkasnya.

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]mojokertotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]mojokertotimes.com | marketing[at]mojokertotimes.com
Top