Banner protes masyarakat Mangliawan atas rencana pengelolaan wisata Wendit yang dipihak ketigakan (Ist)

Banner protes masyarakat Mangliawan atas rencana pengelolaan wisata Wendit yang dipihak ketigakan (Ist)


Pewarta

Dede Nana

Editor

A Yahya


Rencana pengelolaan wisata air Wendit di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, oleh pihak ketiga telah berjalan beberapa bulan lalu. Berbagai rapat juga telah dilakukan antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dengan investor. Hasilnya mengerucut pada  satu investor asal Jawa Barat, yaitu PT Inti Composite Figlasindo Utama, yang siap menjadi pihak pengelola wisata. Selain menjad pengelola, perusahaan tersebut juga siap menanamkan modal sebesar Rp 15 miliar selama dua tahun pertama pembenahan.

Rencana pengelolaan wisata Wendit yang memiliki jejak sejarah panjang sejak kerajaan Singosari ini, ternyata menimbulkan rasa khawatir di dalam masyarakat sekitar lokasi. Melalui Forum Peduli Masyarakat Mangliawan (FPMM), mereka mempertanyakan tentang terkait rencana pengelolaan oleh investor atau pihak ketiga itu. Dimana, melalui wakil ketuanya, Rokhimin, rencana tersebut dikhawatirkan akan membuat warga sekitar yang hidup dari keberadaan wisata Wendit akan tergeser.

"Ini kekhawatiran kita sebagai warga di sini. Kita tahu banyak warga yang menggantungkan hidup di lokasi wisata Wendit. Baik sebagai pedagang, juru parkir dan lainnya," kata mantan BPD Mangliawan, Jumat (19/07/2019).

Kekhawatiran tersebut dilandasi juga dengan tidak adanya pelibatan masyarakat dalam rencana pengelolaan wisata Wendit kepada pihak ketiga. "Tidak ada sampai saat ini, sehingga kami bertanya-tanya juga. Ini memang benar mau dipihak ketigakan atau seperti apa. Kami tidak pernah diajak ngomong," ujar Rokhimin.

Sehari sebelumnya, masyarakat yang tergabung dalam FPMM, membentangkan banner berukuran besar di depan pintu wisata Wendit. Dimana dalam banner itu tertuliskan, "Wenditku Sayang, Wenditku Malang. Pegawai-kuterabaikan, Pedagang-kutersingkirkan, Kera-keraku kelaparan. Mana keaeifan lokalmu?".

Selain itu juga FPMM membentangkan baliho bertuliskan, "Ojok Didol Wenditku, Kembalikan Wisataku yang Dulu, Karena Lebih Mudah Aku Mengais Rezeki".

Kondisi wisata Wendit memang serupa dilema. Dikelola oleh pihak Pemkab Malang, tidak memberikan sumbangan berarti kepada PAD. Alias berjalan di tempat dan minim pendapatan dikarenakan manajemen yang menurut kabar burung, tidak profesional. Diserahkan pengelolaannya, masyarakat pun mempertanyakan tindak lanjut ke depannya bagi kehidupan warga yang telah lama menggantungkan diri di wisata Wendit selama ini.

Seperti diketahui, harapan masyarakat Mangliawan, sebenarnya menjadi bagian dalam persyaratan pengelolaan wisata Wendit oleh pihak investor. Selain diwajibkan adanya penambahan wahana dan peningkatan fasilitas objek wisata, juga tidak boleh merusak lingkungan dan ekosistem di dalamnya. "Itu syarat kita kepada investor yang akan mengelola wisata Wendit," ujar Plt Bupati Malang Sanusi, beberapa waktu lalu terkait adanya rencana pengelolaan wisata Wendit dengan investor.

Sedangkan terkait persoalan, bagaimana warga Mangliawan yang telah lama menggantungkan hidupnya dengan keberadaan wisata Wendit, memang belum secara gamblang disampaikan, bila dikelola investor. Walaupun, beberapa kali pihak DPRD Kabupaten Malang yang juga menyepakati adanya perubahan manajemen dari yang lalu dan minim menyumbang PAD ke pihak ketiga. Menegaskan, pihaknya sepakat kalau hal itu untuk kebaikan masyarakat Mangliawan serta bisa mendongkrak PAD Kabupaten Malang.

 


End of content

No more pages to load