Lahan yang  diresahkan warga karena dijadikan tempat membakar sampah (Agus Salam/Jatim TIMES)

Lahan yang diresahkan warga karena dijadikan tempat membakar sampah (Agus Salam/Jatim TIMES)



Tak tahan dengan asap dan bau sampah serta genangan air, Warga RT1 RW 1 jalan Sunan Kalijaga, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, wadul ke dewan. Sasaran wadul komisi 3 DPRD setempat, Senin (22/7) sekitar pukul 11.00.

Hanya saja yang datang ke lokasi pembuangan sampah, bukan seluruh anggota komisi 3, tetapi hanya ketuanya saja yakni, Agus Riyato. Politikus PDIP itu menyatakan, kedatangannya menemui warga bukan atas nama komisi, melainkan atas nama pribadi.

Beberapa saat setelah berdialog dengan warga, Agus memanggil Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas PUPR (Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Pemukiman (Perkim). Tujuannya, agar mengetahui secara langsung lokasi penimbunan sampah yang dikeluhkan warga.

Menurut Agus, sudah lama warga mengeluh soal bau dan pembakaran sampah serta genangan air akibat selokannya tertutup sampah. Namun, hingga saat ini belum ada yang menyelesaikan, termasuk lingkungan dan kelurahan setempat. “Tidak perlu hearing. Kami minta diselesaikan di kelurahan dulu. Kami sudah menghubungi kelurahan ,” ujar Agus.

Dijelaskan, warga lapor ke dirinya lantaran sudah tak tahan dengan asap. Warga setiap hari menghirup asap hasil pembakaran sampah. Bahkan, ada salah satu warga yang sakit paru-paru,  akibat menghirup bau dan asap sampah siang dan malam hari. “Kami sudah berembuk tadi bersama warga dan pemilik lahan. Kami minta menghentikan pembakaran sampah,” ujarnya.

Selain itu, Agus juga meminta pemilik lahan membersihkan selokan atau pembuangan air yang lewat di lahan tersebut. Agar air tidak lagi menggenangi rumah Wahyudi yang sudah belasan tahun digenangi air akibat aaliran air tidak lancar bahkan tersumbat. Sehingga rumah Wahyudi seluruh dinding temboknya berwarna hijau, akibat ditumbuhi lumut.

Agus menjelaskan, lahan yang luasnya sekitar setengah hektar tersebut awalnya lahan gambut alias rawa. 20 tahun yang lalu dibeli Muslihan yang tinggal di Surabaya. Pemiliknya, tidak mempermasalahkan lahan itu dibuangi sampah. Bahkan pemilik menghimbau warga untuk membuang sampah di lahan tersebut. Dalam perjalanan timbul permasalahan, warga resah dengan bau dan asap sampah.

Pemilik membakar sampah, dengan menyuruh warga setempat, agar sampah buangan warga tidak menggunung. Dan sampah yang telah menjadi abu, berfungsi sebagai urukan hingga kini lahan yang awalnya berair, kini menjadi padat. Bahkan, di lahan tersebut ditempati puluhan kambing. 

“Tujuannya bagus. Tapi dampaknya, meresahkan warga,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Sunjoto Kabid Penanganan dan Penanggulangan Aampah pada DLH mengatakan, akan mengusahakan container sampah. Kontainer tersebut akan diletakkan di sekitar lokasi pembuangan sampah. Tujuannya, agar warga tidak lagi membuang sampah di lahan kosong milik Muslihan. “Kita masih akan koordinasi dengan kelurahan serta lingkungan sini,” ujarnya.

Sebab, bak atau container sampah membutuhkan lahan kosong. Sunjoto menyebut, ada lahan kosong di dekat pemakaman umum, selatan lahan yang diresahkan warga. Jika warga dan pihak kelurahan setuju, maka container atau bak sampah truk akan ditempatkan di lokasi tersebut. “Jadi warga sini nantinya, membuang sampah ke container. Setelah penuh, petugas DLH yang akan mengambil,” tandasnya.

Sunjoto berharap, pemilik lahan tidak membakar sampah lagi. Jika tetap dilakukan, maka akan dikenai sangsi berupa denda sebesar Rp 50 juta dan kurungan selama 6 bulan. Aturan dan sangsinya tercantum atau tertulis di Perda Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Kebersihan. “Ada sangsi administrasinya. Jika tetap melanggar, dikenai sangsi denda dan kurungan. Ada di pasal 27,” pungkasnya.

Wahyudi, warga setempat lega dengan kedatangan anggota DPRD dan OPD terkait. Sebab, pembakaran dan pembuangan sampah di lokasi milik Muslihan, sudah tidak diperbolehkan. Warga diminta membuang sampah di container milik DLH. Ia juga senang, lantaran air yang menggenangi rumahnya sudah tidak ada lagi. 

"Yakan, Kalau sampah di selokan dibersihkan, air lancar. Itu tembok rumah saya sampai ditumbuhi lumut. Ya karena genangan air,” katanya singkat.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load