Mahasiswa asing dan lokal yang live in di keluarga migran. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Mahasiswa asing dan lokal yang live in di keluarga migran. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



Kebutuhan hidup yang semakin meningkat, tingkat pendidikan yang rendah, hingga upah yang lebih tinggi di luar negeri membuat banyak masyarakat Indonesia memilih menjadi buruh migran.

Terlebih lagi, banyak buruh migran yang dipandang berhasil. Ketika pulang ke tanah air, mereka sudah mampu menaikkan derajat keluarga, merenovasi rumah, membuka usaha, dan lain-lain.       

Hal ini menjadikan banyak masyarakat Indonesia, perempuan khususnya, memutuskan untuk menjadi TKW. Mereka terpaksa meninggalkan anak karena kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak.

Tetapi, keputusan tersebut akan berdampak pada anak. Misalnya anak ditelantarkan, anak kurang kasih sayang dari orang tuanya, anak kehilangan figur seorang ibu, kurangnya kedekatan anak dengan ibu, pendidikan menjadi buruk karena kurangnya pengawasan orang tua terhadap proses belajar anak, dan lain-lain.

Berbagai persoalan terkait migran tersebut kerap luput dari perhatian, padahal penting untuk ditindaklanjuti. Anak-anak dari pekerja migran yang ditinggal jauh dari orang tua biasanya dititipkan pada kerabat bahkan hanya tetangga. 

Akibatnya mereka kurang mendapatkan kasih sayang serta perhatian, kurangnya pendidikan dari orang tua, hingga rentan terjerumus dalam kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan permasalahan lainnya.

Atas dasar fenomena itu, 20 mahasiswa yang terdiri atas 10 mahasiswa STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Malangkucecwara (ABM), Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), serta 10 mahasiswa asing dari Rajamangala University of Technology Krungthep (RMUTK) Thailand, Mariano Marcos State University Filipina, dan Yala Rajabhat University Thailand melakukan project based learning (PBL) dengan live in atau tinggal di keluarga migran di Desa Sidorejo, Purwodadi, Donomulyo, Kabupaten Malang.

Di sana, mereka meneliti bagaimana kehidupan keluarga migran, mendampingi, dan memberi support untuk anak keluarga migran. Kegiatan ini mendapatkan hibah dari Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) sekitar Rp 140 juta.

"Kegiatan ini merupakan kegiatan dari hibah program pengembangan Kantor Urusan Internasional kolaborasi antara STIE Malangkucecwara ABM, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Negeri Surabaya," terang Ketua Kantor Urusan Internasional (KUI) Ir Dwi Nita Aryani MM Phd kepada MalangTIMES.

Project based learning tersebut bertajuk Strengthening the Support System for Migrant Workers Families in Indonesia. Selama 4 hari 5 malam, para mahasiswa live in di 10 keluarga.

"Mereka tinggal di rumah-rumah keluarga migran itu betul-betul merasakan bagaimana kehidupan anak-anaknya. Khususnya karena ternyata anak-anak ini ketika ditinggalkan akan dititipkan oleh orang tua pengasuhnya. Tentunya berbeda perasaannya ketika mereka ditinggal dengan ibunya komunikasinya terhambat, kasih sayangnya kurang. Nah itu adalah problem-problem yang mereka bisa rasakan," beber Nita.

Bahkan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai permasalahan ini, Focus Group Discussion (FGD) juga diadakan hingga mendatangkan Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3TP2A) dan Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan (LPKP).

"Mahasiswa belajar dari best practice bagaimana para perangkat desa, volunteer dan NGO (Non Government Organization) seperti LP3TP2A dan LPKP bersama-sama mengubah mindset masyarakat untuk menurunkan jumlah migran, juga berusaha mengelola desanya dengan peningkatan usaha/bisnis agar masyarakat tidak perlu ke luar negeri untuk mendapatkan income," jelasnya.

Hal ini dikarenakan sebetulnya desa-desa tersebut bisa memaksimalkan potensinya sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Masyarakat dapat mempunyai berbagai usaha, seperti perkebunan, peternakan, atau bisnis-bisnis lain.

"Harapannya para mahasiswa memberikan alternatif, solusi, rekomendasi apa yang bisa dilakukan terhadap problem ini," pungkas Nita.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load